Tag Archives: mlm terbaik

Hidup Lebih Baik yang Belum Tentu Disambut Baik

Artikel Keren dari Prof. Rhenald Kasali.. Selamat membaca..

*”Hidup Lebih Baik yang Belum Tentu Disambut Baik”*

(Begitulah Shifting Terjadi)

oleh Prof. Rhenald Kasali

Mungkin inilah zaman pertemuan dua generasi yang paling membingungkan sepanjang sejarah. Ini bukan soal generasi kertas vs generasi digital semata. Melainkan soal di mana dunia kita berada, sehingga ekonomi menjadi berubah arah dan banyak yang bangkrut. Ini juga bukan soal kebijakan ekonomi, ini soal teknologi yang mengubah platform hidup, ekonomi dan kehidupan.

Saya menyebutnya shifting, tetapi sebagian besar ekonom “tua” menyebutnya resesi, pelemahan daya beli dan seterusnya. Saya menyebut apa yang dilakukan generasi Nadiem Makarim sebagai inovasi, bahkan disruption. Tetapi manajer-manajer “tua”, bilang mereka “bakar uang.” Mereka bilang retail online kecil, tapi anak-anak kita bilang “besar”..

Saya bilang mereka punya “business model,” tetapi regulatornya bilang itu sebagai industri predator. Maka regulasinya pun berpihak ke masa lalu.

Hari semakin petang saat satu persatu usaha konvensional berguguran, tetapi saya belum melihat yang tua ikhlas menerima proses shifting ini. Mengakui belum, blame jalan terus, tetapi usaha-usaha lama bakal berguguran terus.

*Dari Armada laut ke retail dan bank*

Tiga tahun lalu kita membaca tentang keributan dalam industri jasa angkutan penumpang taksi. Di sini mulai ramai pertempuran antara ojek pangkalan vs. Gojek. Lalu antara pengemudi angkot dengan Gojek. Disusul demo sopir taksi melawan taksi online.

Tahun lalu, korbannya adalah angkutan laut dan hotel. Produsen kapal asal Korea (Hanjin) meminta perlindungan bangkrut. Lalu disusul oleh Maersk dan Hyundai. Setelah itu Rickmers Group (Jerman), Sinopacific Dayang, Wenzhou Shipping dan Zhejiang (China). Jumlah kapal yang dibutuhkan oleh perdagangan dunia sudah berubah menyusul penggunaan telekomunikasi dan aplikasi baru yang serba tracking dan perubahan pola peletakan industri global.

Setelah itu tahun ini kita melihat empat industri: Mainan anak-anak, retail, perbankan dan industri-industri tertentu. Level of competition meningkat, dan pendatang-pendatang tertentu masuk dengan platform baru. Industri mainan anak-anak Indonesia mengeluh penjualannya drop 30%, karena masih mengandalkan mainan berbahan plastik. Jangankan mainan anak-anak seperti itu, boneka Barbie saja pun kena imbas. Bahkan Toy ‘R’ Us di Amerika mengajukan pailit.

Sementara industri mainan anak-anak konvensional kesulitan, industri pembuatan game online di Indonesia berkembang pesat. Diduga omsetnya mencapai USD 10 juta.

Kita juga membaca satu per satu retail di Indonesia menutup outletnya. Terakhir Debenhams dan Lotus. Tapi nanti dulu, itu bukan cuma terjadi di sini. Di USA, tahun ini saja sudah 1430 toko milik Radio Shack yang ditutup, lalu 808 outlet milik toko sepatu Payless, 238 outlet Kmart, 160 toko Crocs (sepatu), 138 outlet JC Penny, 98 Sears, 68 Macy’s, 70 outlet CVS, 154 toko untuk Walmart, 128 outlet Michael Kors dan seterusnya.

Dari Jepang pagi ini saya mendengar Mizuho bank akan mengurangi 19.000 dari 50.000 karyawannya setelah keuntungannya banyak dimakan fintech. Ini sejalan dengan bank-bank nasional yang mulai melakukan hal serupa, minimal tak lagi membuka cabang baru.

Jadi kalau kita melihat baru beberapa toko besar yang ditutup di sini, dan mulai sepinya belanja di Glodok dan toko grosir Tanah Abang, maka sesungguhnya itu belum seberapa. Ini baru tahap awal. Nanti, saya bisa ceritakan bahwa, brand pun berubah bagi millennials: Branded (luxuries) akan menjadi public brand.

*Bencana atau peluang*

Shifting tentu berbeda dengan krisis atau resesi yang lebih banyak dipandang sebagai bencana yang amat memilukan. Shifting dapat diibaratkan Anda tengah bermain balon eo’. Masih ingatkah balon yang terdiri dari dua buah dan berhubungan. Kalau yang satu ditekan, maka anginnya akan pindah ke balon yang besar dan berbunyi eo’, eo’ …

Ya seperti itulah. Angin berpindah, lalu ada yang terkejut karena terjepit dan ruangnya hampa. Manusia-manusianya akan bertingkah polah mirip cerita Who Moved My Cheese. Manusianya bolak-balik kembali ke tempat yang sama dan berteriak-teriak marah: Kembalikan keju saya! Kembalikan! Duh, siapa yang mencurinya? Siapa yang memindahkannya?

Padahal, menurut Ken Blanchard & Johnson yang menulis perumpamaan itu, keju adalah symbol dari apa saja yang membawa kebahagiaan. Ia bisa berupa kue, pekerjaan, kekasih, kekayaan, perusahaan, atau bahkan keterampilan. Dan semuanya tak abadi, bisa pindah atau dipindahkan “ke tempat” lain.

Dan di dalam cerita itu disebutkan ada dua ekor tikus yang selalu bekerja dan mencari “keju” itu ke tempat lain. Anda yang mempunyai “Shio” tikus barangkali punya perilaku yang sama: Tak bisa diam di tempat. Nah, keduanyalah yang menemukannya. Ternyata di tempat lain itu ada keju-keju lain yang sama nikmatnya dan jauh lebih besar.

Mereka menuding resesi atau daya beli itu ibarat “manusia” tadi. Tidak bisa melihat keju yang telah berpindah ke tempat lain. Ia hanya mengais rejeki di tempat yang sama. Resesi atau lemahnya daya beli, kalau balon, maka itu diibaratkan satu balon yang mengempis atau kalau krisis, balonnya pecah.

Dan harap diketahui kita baru saja berada di depan pintu gerbang Disruptions. Saya harap Anda sudah membaca bukunya. Dalam proses disruption itu, teknologi tengah mematikan jarak dan membuat semua perantara (middlemen) kehilangan peran. Akibatnya margin 20-40% yang selama ini dinikmati para penyalur (grosir – retailer) diserahkan kepada digital marketplace (± 5%), seperti Tokopedia, Bukalapak, OLX, dan konsumen. Konsumen pun menikmati harga-harga yang jauh lebih terjangkau.

Ditambah lagi, kini generasi millennials telah menjadi pemain penting dalam konsumsi. Dan tahukah Anda, setidaknya satu dari beberapa anak Anda telah menjadi wirausaha baru. Mereka beriklan di dunia maya seperti di FB dan IG, dan mendapatkan pelanggan di sana, berjualan di sana, dan perbuatannya tidak terpantau regulator bahkan orang tua mereka sekalipun.

Di era ini, para pengusaha lama perlu mendisrupsi diri, membongkar struktur biaya, bukan bersekutu dengan regulator, mengundang kaum muda untuk membantu meremajakan diri, agar siap bertarung dengan cara-cara baru. Biarkan saja kaum tua meratapi hari ini dengan mengatakan daya beli, krisis, atau resesi.

Dunia ini sedang shifting. Orang tua-orang tua muda sedang memangku cyber babies, kaum remaja terlibat cyber romance. Mereka belajar di dunia cyber, dan menjadi pekerja mandiri. Dan masih banyak hal yang akan berpindah, bukan musnah. Ia menciptakan jutaan kesempatan baru yang begitu sulit ditangkap orang-orang lama, atau orang-orang malas yang sudah tinggal di bawah selimut rasa nyaman masa lalu.

Ayo ikuti shifting ini, terlibat dan ambil bagian di dalamnya

Semoga bermanfaat 🙏🏻

Advertisements

Leave a comment

Filed under Artikel

3 Rules I Use to Stay Productive and Not Overwhelmed

By : Ted Serbinski
Managing Director, Mobility at Techstars

To say my life is busy is an understatement.

I’m a father of three kids under the age of three. I have a portfolio of 40-plus startups I’ve invested in and actively support. Each week, I receive 1,000 emails and take 15-30 meetings.

But, also each week, I work 35-40 hours, I go to the gym five times, I clear out my inbox and task list and each night I sleep 8-9 hours. I’m home for dinner with the family almost every night.

So how do I manage this all and not feel overwhelmed? I’ve realized the key to managing the overwhelm and finding focus has come down to three essential rules.

Start with the end in mind.

“Begin with the end in mind” is habit two from Stephen Covey’s book The 7 Habits of Highly Effective People. You can’t stay focused if you don’t know what you’re aiming for. Not knowing your priorities is the cause of overwhelm.

How I put this into practice:

1. I reflect on my eulogy.

Last year, I wrote my eulogy. It’s amazing the clarity you get from thinking about your life at the end. Check out Michael Hyatt’s book Living Forward for a step-by-step guide to crafting your own.

The result of doing this has been transformational. I feel an inner sense of purpose and a connection to my life’s calling. I’m continually zooming out, so I don’t get lost along the way and drift to a place I don’t want to be. When I have those bad days, I remind myself of those that matter most to me and what they might say at my funeral. This connection immediately tempers any bad days as merely temporary.

2. I am committed to achieving 10 goals each year.

For the past three years, I’ve set aside time in December to reflect on the past year and decide what I want to accomplish in the next year. This reflection helps me keep focused throughout the year

I started writing 10 goals a year in 2016. For me, I see recurrent themes around family, health, relationships, work and financial freedom. For 2018, I wrote a financial goal: “Reduce our spending by $500 each month by March 31, 2018.” When I wrote it, I had no idea how we’d do that with all of kids activities and our love for dining out. Well, that was December 2017, and by March 2018, that goal has been exceeded, closer to $600 a month now.

3. I write out my day the night before.

This practice has become one of my favorite habits. Each day, at the end of the workday, I review what I got done that day and plan for the next day. I set two to three big things I want to accomplish the next day, clean up my task/project list and re-commit to my calendar appointments. When I walk into the office in the morning, I’m ready to go, and I know exactly where to start.

Find leverage with routines, habits and technology tools

Simple habits and routines free up willpower for where it is needed most. They minimize decision fatigue so you have a more productive day. The Power of Habit by Charles Duhigg explains this concept further.

How I put this into practice:

1. I write down and review my workday startup and shutdown list of activities.

I was hesitant when I first heard about this concept. How is this going to help me get more done? So one day, I made a list of the things I do each morning to start my workday and things at the end to close up shop. Then something magical happened. I found activities I was overlooking or not doing consistently. I found activities I could optimize. But, more importantly, I found a way to delineate the start and end of the workday.

2. I conduct a personal quarterly review.

Every 90 days, I zoom out of my day-to-day and evaluate it. I look at what I can eliminate, what I can improve, and what I want to change. Two questions I like to ask myself I got from Tim Ferriss: What are 20 percent of the activities I’m doing that are creating 80 percent of the results? And what are the 20 percent of the commitments/people/work creating 80 percent of my stress?

During my 2017 Q4 quarterly review, I realized I was overcommitted. I looked at my commitments and realized there were two boards I could step down from. I served on each for more than four years. I learned a ton, but the time had come where it felt like more of an obligation and was no longer synergistic with my life goals and work priorities. Stepping down was hard, but the effect was amazing: I had a lot more free time in my schedule for new opportunities.

2. I use email for communication, not task management.

This practice was a very hard bad habit to break. Email is meant for communication. If you treat it as a task list, then anyone, at anytime, can add anything to your task list. It’s impossible to keep up with. So I started treating email for what it is: communication. And oh, I deleted email from my phone — I don’t always need to be in communicationmode.

The result of doing this was a massive reduction in stress and anxiety. Every time I’d open my inbox to complete a task, I’d see more emails. I’d get lost in responses and at the end of the day feel like I was busy but not productive. Breaking this habit freed me from priorities of others so I could focus on what I needed to do. That little practice has compounded with time to yield tremendous results. How do I get so much done? Avoid email.

Learn to say no.

No.

So simple to write yet so hard to put into practice. Greg McKeown’s book Essentialism: The Disciplined Pursuit of Less is a wonderful deep dive into the art of saying no by pursuing less.

How I put this into practice:

1. I review my life priorities and yearly goals each day.

Once you get clear on what you want, it becomes far easier to say no to everything else. The enemy of great is good.

2. Each time I say yes, I remember I am also saying no to something else.

Consider this: Each time you say yes to something, you are inadvertently saying no to something else. That “yes” takes up time in your life and when that next opportunity comes up, you don’t have the time to say yes.

3. I often respond with “Sorry, I have a prior commitment.”

Who’s that prior commitment? Me. No, I’m not selfish. But if I say yes to everyone else’s requests, how am I going to find time for my work and passion? This goes back to rule No. 1 — be proactive about what you want versus reactive to what people want.

When I first tried this, I was worried. People are going to get mad. They won’t like me. They will stop asking for me to speak, help or work with them. It turns out this was a false truth living in my head. People ended up respecting me for being clear about my priorities and boundaries. And the requests, well, it seems like I’m getting even more than ever being harder to reach.

For many years, I was a productivity nerd. I’d read books and tried every tool that mentioned “GTD” (from David Allen’s Getting Things Done book). But, I continually stumbled, felt overwhelmed and never felt in control.

In the past year, after some self-reflection, connecting of the dots and new resources, I realized I was missing the whole point.

Overwhelm doesn’t need to hinder productivity. The recipe for success is simple: Start with the end, establish habits and routines to get there, and don’t be afraid to say no to every request that doesn’t help you accomplish your goals.

Leave a comment

Filed under Artikel

Bergaul Dengan Orang yang Berprestasi

Pelikan : burung penangkap ikan yang ulung, tp di Montereya – California hal spt ini tidak terjadi.

Di kota ini burung pelikan tdk perlu bersusah payah untuk mendapatkan ikan karena banyak sekali pabrik pengalengan ikan, ber-tahun2 mereka berpesta dengan ikan yg berserakan.

Hal yg menakutkan terjadi ketika ikan di sepanjang pesisir mulai habis dan pabrik pengalengan mulai tutup, burung tsb mengalami kesulitan.

Karena ber-tahun2 tidak menangkap ikan, mereka menjadi gemuk dan malas. Ikan yang dulu mereka dapatkan dengan mudah sudah tidak ada, sehingga satu persatu dari mereka mulai sekarat dan mati.

Para pecinta lingkungan hidup berusaha keras menyelamatkan mereka, berbagai cara dicoba untuk mencegah populasi burung ini agar tidak punah.

Sampai suatu saat terpikirkan oleh mereka untuk mengimport burung pelikan dari daerah lain, yaitu :

“pelikan yg berburu ikan setiap hari”.

Pelikan tersebut lalu bergabung bersama pelikan setempat, hasilnya luar biasa pelikan baru tersebut segera berburu ikan dengan giatnya.

Perlahan pelikan yang kelaparan tersebut tergerak untuk berburu ikan juga, akhirnya pelikan di daerah tersebut hidup dengan memburu ikan lagi.

Les Giblin, seorang pakar hubungan manusia menjelaskan bhw :

manusia belajar dr panca inderanya:
– 1% dari rasa,
– 1½ % dari sentuhan,
– 3½ % dari penciuman,
– 11% dari pendengaran,
– 83% dari penglihatan.

John C. Maxwel, pakar kepemimpinan
surveinya membuktikan:

“Bagaimana seorang menjadi pemimpin?”

– 5% akibat dari sebuah krisis,
– 10% adalah karunia alami,
– 85% adalah dikarenakan pengaruh dari pemimpin mereka.

Demikian halnya jika kita ingin semakin maju, maka salah satu cara terbaik adalah:

A. Bergaul dg orang yang berprestasi.
B. Perhatikan :
– cara mereka bekerja,
– teladani hidup mereka,
– pelajari cara berpikir mereka,
– dan lihat bagaimana mereka mengambil keputusan penting.

Have a nice day
Tetap Semangat…
Terus Bertumbuh…
Dan Terus Belajar…

Semangat Pagi Frens!

Sumber: dari sebuah group WA

Leave a comment

Filed under Artikel

ANDA TIDAK LAYAK MENDAPATKAN ANGKA ‘NOL’

Jangan fokus pada masalah Anda.

Sebagai gantinya, fokuslah pada impian Anda.

Dan Baker memberikan penjelasan matematis mengapa fokus pada masalah tidak akan berhasil.

Bayangkan bahwa karena masalah Anda, Anda adalah -10.

Dalam mencoba memperbaiki masalah, Anda berusaha untuk kembali ke 0.

Dari pengalaman saya, ini lambat.

Karena memperbaiki masalah melelahkan.

Mungkin setelah beberapa bulan, Anda akan bisa meningkatkan diri dari -10 ke -8. Dan beberapa bulan berikutnya, Anda akan dapat mencapai -7. Dan seterusnya.

Berikut adalah cara yang lebih baik: Jangan fokus pada masalah Anda. Fokuslah pada impian Anda.

Ketika Anda berfokus pada impian, Anda melakukan lompatan katak dari -10 ke +10. Anda melewati 0! Mengapa? Karena impian menggairahkan. Impian besar menarik lebih banyak energi, perhatian, dan sumber daya.

Saya membagikan pesan ini dalam sebuah kotbah.

Sebagai alat peraga, saya meminta staf saya untuk membawakan saya setumpuk koran bekas dan membagi mereka menjadi dua tumpukan. Berdasarkan berita utama, saya meminta mereka untuk memisahkan koran tersebut atas tumpukan “Berita Baik” dan “Berita Buruk”.

Saya kira Anda tahu apa yang terjadi.

Saya punya setumpukan tinggi Berita Buruk, dan hampir tidak ada tumpukan Berita Baik. Karena Media menjual Berita Buruk.

Kita sudah dilatih untuk fokus pada Berita Buruk.

Suatu kali, saya memberikan seminar untuk 200 Manajer Toko sebuah perusahaan pakaian. Saya mengatakan kepada mereka untuk berhenti membaca koran (kiasan). Karena semua yang mereka baca adalah berita negatif: krisis keuangan, perusahaan-perusahaan tutup, dan orang-orang kehilangan pekerjaan… Ini sangat menyedihkan, mereka akan membuka toko mereka dengan berkata, “Aduh, tidak ada yang akan datang dan membeli pakaian kami … “Dan ketika seseorang memasuki toko mereka, mereka akan berkata kepada diri sendiri,” Dia hanya akan melihat-lihat. Dia tidak akan membeli … ”

Ketika Anda berfokus pada masalah Anda, Anda memiliki visi terowongan. Seperti kuda dengan penutup mata. Anda kehilangan kesempatan fantastis untuk ekspansi dan kehilangan berkat yang berada di luar visi sempit Anda.

Berikut saran bisnis bagi para pengusaha: Jangan hanya memecahkan masalah. Fokus pada impian Anda. Memecahkan masalah harusnya menjadi bagian dari meraih impian Anda – tapi Anda melakukannya dengan semangat dan kegembiraan!

Semoga impian Anda menjadi kenyataan,

Bo Sanchez

Leave a comment

Filed under Artikel

Mengenal Bisnis MLM

1353152ponzi780x3901Tidak sedikit orang yang berteriak bahwa MLM atau multi level marketing adalah sebuah skema yang berakhir pada penipuan. Alhasil, MLM sering dicap sama dengan penipuan. Bahkan bisa sama juga investasi dicap sama dengan penipuan. Ini menyebabkan banyak orang menghindari segala hal berbau investasi dan MLM.

Meski demikian, perlu saya jelaskan bahwa keduanya (MLM dan investasi) tidak dapat disamakan. Bila Anda bertanya mengenai investasi yang menjurus ke penipuan maka bisa membaca pada artikel-artikel saya di Kompas.com.

Namun pada kali ini saya tergelitik untuk kembali membahas sedikit mengenai multi level marketing. Akibat banyaknya penipuan yang mengatasnamakan MLM, metode ini mendapat cap yang buruk dimata masyarakat.

MLM adalah sebuah metode penjualan berjenjang. Misalnya, saya memiliki sebuah produk sikat gigi, penjualan normal sikat gigi adalah saya jual dan Anda beli, bila Anda beli maka saya dapat keuntungan.

Apa jadinya bila Anda ingin menjual sikat gigi yang Anda beli dari saya? Jelas harus dijual lebih mahal dari pembelian Anda atau Anda bisa meminta diskon agar bisa tetap mendapat keuntungan dengan menjual dengan harga penjualan pertama, betul?

Namun bagaimana bila seperti ini: Anda membeli sikat gigi dari saya, saya menginformasikan bahwa dengan Anda menjualnya kembali kepada orang lain Anda akan mendapatkan keuntungan, bukan diberikan oleh saya, tapi oleh perusahaan pembuat sikat gigi? Dan ketika Anda menjual produk, bukan hanya Anda yang mendapat keuntungan, tapi juga saya yang telah mengenalkan Anda dengan produk sikat gigi tersebut.

Itulah sebuah skema dasar dari penjualan berjenjang atau bertingkat, yakni pada setiap produk yang Anda beli atau jual sebenarnya sudah diperhitungkan keuntungan bagi penjualnya, hingga orang yang memberikan referensi. Bahkan keuntungan bukan hanya dari yang memberikan referensi kepada Anda, tapi orang yang memberikan referensi kepada rekan Anda yang mengenalkan produk kepada Anda, boleh dikatakan bila Anda anak, maka yang mengenalkan kepada Anda adalah ayah, maka yang mengenalkan produk kepada rekan Anda (si ayah) adalah kakek.

Ketika Anda (anak) menjual produk, maka baik ‘ayah’ dan ‘kakek’ juga mendapatkan keuntungan. Dan tentunya ketika orang lain Anda tawarkan untuk menjual di situlah Anda menjadi ‘ayah’. Dalam multi level marketing dikenal dengan jaringan atau level kedalaman.

Lalu apa hubungannya dengan penipuan? Karena seperti yang telah saya tuliskan, bahwa perusahaan memang telah memperhitungkan keuntungannya dalam sikat gigi yang Anda jual, tentunya keuntungan dibagi-bagi tidak ada masalah dong?

Dengan metode MLM, sebenarnya perusahaan bukannya memboroskan uang dengan membagi-bagi keuntungan kepada para penjualnya, melainkan bisa menghemat biaya distribusi dan pemasaran (biaya iklan) karena biaya tersebut adalah biaya yang mahal dalam sebuah industri perdagangan.

Masalah pertama dari MLM gadungan adalah mereka tidak pernah menjalankan bisnis multilevel tapi hanya menebar janji-janji akan mendapatkan keuntungan.

Setidaknya bila Anda ingin menekuni sebuah penawaran MLM ada beberapa tips singkat: 1. Apakah perusahaan memiliki SIUPL atau Surat Ijin Usaha Penjualan Langsung?
Bukan SIUP (Surat ijin Usaha Perdagangan) dan TDP (Tanda Daftar Perusahaan)! Banyak orang tidak mengetahui bahwa membuat sebuah perusahaan MLM perlu memiliki SIUPL, dan perhatikan juga bahwa SIUPL menempel pada sebuah produk, bisa saja dalam sebuah perusahaan memiliki produk A dan B, lalu yang telah diberikan izin SIUPL adalah produk A, sehingga dengan menjual A dan B secara MLM sebenarnya produk B dapat dikatakan ilegal.

2. Apakah ada produknya?
Sebuah bisnis MLM tentunya perlu memiliki produk. Produknya bisa apapun dengan penjualan berbasis MLM seperti buku, komputer, sabun, dan lain sebagainya.
Bila tidak ada produknya, maka perlu dipertanyakan lebih detail karena hingga saat ini penerbitan SIUPL bagi jasa yang di-MLM-kan masih belum jelas, perlu ditanyakan kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM.go.id).
Jangan terburu nafsu ikut menjual! Karena ingat, ketika Anda menjual produk MLM Anda sedang “menjual diri” Anda kepada orang yang ditawarkan, bila produk tersebut bermasalah maka Anda juga bisa menjadi tersangka karena ikut menawarkan!

3. Berhitung dari mana keuntungan perusahaan.
Meskipun Anda tidak berniat membuat sebuah produk saingan, coba perhitungkan dari mana keuntungan perusahaan MLM dapat dihasilkan?
Pada umumnya produk MLM lebih mahal dibandingkan produk sejenis. Selain itu, bila perusahaan ini berhenti melakukan rekrutmen penjual baru (anggota), apakah masih bisa bertahan?
Lalu pelajarilah kelemahan-kelamahan dari sistem MLM yang pastinya Anda bisa pelajari di dunia maya yang begitu banyak informasinya. Misalnya, bagaimana pembayaran maksimum dari sebuah keuntungan dan lainnya karena sebuah sistem tidak akan ada yang sempurna. Tidak sedikit perusahaan MLM merugi karena dimanfaatkan kelemahan atau celah perhitungan anggotanya.

Semoga setiap orang di Indonesia lebih cermat dalam melakukan justifikasi pada setiap skema bisnis dan investasi agar negara kita menjadi lebih baik di kemudian hari.

Salam investasi untuk Indonesia!

Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/07/03/130000726/Mengenal.Bisnis.MLM

 

Leave a comment

Filed under Artikel

Open house JEM ‘September Ceria’

Open house JEM ‘September Ceria’ kembali digelar di Samarinda

Hari / tanggal: Sabtu, 24 September 2016

Tempat: Kantor JEM Samarinda

Alamat: Ruko Alaya Junction blok LD-55

Kota: Samarinda

Jam: 10.00 – 16.00

Cek kesehatan

Presentasi

Promo

Doorprize

Tiket: Rp 20.000 (5 free 1)

Tiket dapat ditukar:

JEM Water 1 botol

Free cek kesehatan

Snacks

Terapi udara

Undian doorprize

Tiket dapat dibeli di Kantor JEM Samarinda. Ayo ajak sanak, keluarga, teman, sahabat, relasi anda semua. Dapatkan manfaatnya dapatkan sehatnya.

Hub:

Hery 0811 5800 293

Rosa 0823 5746 2999

Salam sehat sejahtera

JEM Global Network

Leave a comment

Filed under Event

Peluang Usaha

Kami Master Stockist resmi JEM Water, menawarkan peluang usaha bagi seluruh enterpreneur di Indonesia untuk menjadi Member, Stockist, dan Master Stockist

MEMBER:

Area 1 (Jawa): Rp 925.000,-

Area 2 (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi): Rp 975.000,-

INCLUDE:

– keanggotaan
– 2 box JEM Water
– 30 PV

STOCKIST & MASTER STOCKIST

– Bisa menghubungi Contact Person

 

Last edited: 22 September 2016

http://www.jemwater.wordpress.com – a rich food for now and for the future

Leave a comment

Filed under Peluang Usaha