Hidup Lebih Baik yang Belum Tentu Disambut Baik

Artikel Keren dari Prof. Rhenald Kasali.. Selamat membaca..

*”Hidup Lebih Baik yang Belum Tentu Disambut Baik”*

(Begitulah Shifting Terjadi)

oleh Prof. Rhenald Kasali

Mungkin inilah zaman pertemuan dua generasi yang paling membingungkan sepanjang sejarah. Ini bukan soal generasi kertas vs generasi digital semata. Melainkan soal di mana dunia kita berada, sehingga ekonomi menjadi berubah arah dan banyak yang bangkrut. Ini juga bukan soal kebijakan ekonomi, ini soal teknologi yang mengubah platform hidup, ekonomi dan kehidupan.

Saya menyebutnya shifting, tetapi sebagian besar ekonom “tua” menyebutnya resesi, pelemahan daya beli dan seterusnya. Saya menyebut apa yang dilakukan generasi Nadiem Makarim sebagai inovasi, bahkan disruption. Tetapi manajer-manajer “tua”, bilang mereka “bakar uang.” Mereka bilang retail online kecil, tapi anak-anak kita bilang “besar”..

Saya bilang mereka punya “business model,” tetapi regulatornya bilang itu sebagai industri predator. Maka regulasinya pun berpihak ke masa lalu.

Hari semakin petang saat satu persatu usaha konvensional berguguran, tetapi saya belum melihat yang tua ikhlas menerima proses shifting ini. Mengakui belum, blame jalan terus, tetapi usaha-usaha lama bakal berguguran terus.

*Dari Armada laut ke retail dan bank*

Tiga tahun lalu kita membaca tentang keributan dalam industri jasa angkutan penumpang taksi. Di sini mulai ramai pertempuran antara ojek pangkalan vs. Gojek. Lalu antara pengemudi angkot dengan Gojek. Disusul demo sopir taksi melawan taksi online.

Tahun lalu, korbannya adalah angkutan laut dan hotel. Produsen kapal asal Korea (Hanjin) meminta perlindungan bangkrut. Lalu disusul oleh Maersk dan Hyundai. Setelah itu Rickmers Group (Jerman), Sinopacific Dayang, Wenzhou Shipping dan Zhejiang (China). Jumlah kapal yang dibutuhkan oleh perdagangan dunia sudah berubah menyusul penggunaan telekomunikasi dan aplikasi baru yang serba tracking dan perubahan pola peletakan industri global.

Setelah itu tahun ini kita melihat empat industri: Mainan anak-anak, retail, perbankan dan industri-industri tertentu. Level of competition meningkat, dan pendatang-pendatang tertentu masuk dengan platform baru. Industri mainan anak-anak Indonesia mengeluh penjualannya drop 30%, karena masih mengandalkan mainan berbahan plastik. Jangankan mainan anak-anak seperti itu, boneka Barbie saja pun kena imbas. Bahkan Toy ‘R’ Us di Amerika mengajukan pailit.

Sementara industri mainan anak-anak konvensional kesulitan, industri pembuatan game online di Indonesia berkembang pesat. Diduga omsetnya mencapai USD 10 juta.

Kita juga membaca satu per satu retail di Indonesia menutup outletnya. Terakhir Debenhams dan Lotus. Tapi nanti dulu, itu bukan cuma terjadi di sini. Di USA, tahun ini saja sudah 1430 toko milik Radio Shack yang ditutup, lalu 808 outlet milik toko sepatu Payless, 238 outlet Kmart, 160 toko Crocs (sepatu), 138 outlet JC Penny, 98 Sears, 68 Macy’s, 70 outlet CVS, 154 toko untuk Walmart, 128 outlet Michael Kors dan seterusnya.

Dari Jepang pagi ini saya mendengar Mizuho bank akan mengurangi 19.000 dari 50.000 karyawannya setelah keuntungannya banyak dimakan fintech. Ini sejalan dengan bank-bank nasional yang mulai melakukan hal serupa, minimal tak lagi membuka cabang baru.

Jadi kalau kita melihat baru beberapa toko besar yang ditutup di sini, dan mulai sepinya belanja di Glodok dan toko grosir Tanah Abang, maka sesungguhnya itu belum seberapa. Ini baru tahap awal. Nanti, saya bisa ceritakan bahwa, brand pun berubah bagi millennials: Branded (luxuries) akan menjadi public brand.

*Bencana atau peluang*

Shifting tentu berbeda dengan krisis atau resesi yang lebih banyak dipandang sebagai bencana yang amat memilukan. Shifting dapat diibaratkan Anda tengah bermain balon eo’. Masih ingatkah balon yang terdiri dari dua buah dan berhubungan. Kalau yang satu ditekan, maka anginnya akan pindah ke balon yang besar dan berbunyi eo’, eo’ …

Ya seperti itulah. Angin berpindah, lalu ada yang terkejut karena terjepit dan ruangnya hampa. Manusia-manusianya akan bertingkah polah mirip cerita Who Moved My Cheese. Manusianya bolak-balik kembali ke tempat yang sama dan berteriak-teriak marah: Kembalikan keju saya! Kembalikan! Duh, siapa yang mencurinya? Siapa yang memindahkannya?

Padahal, menurut Ken Blanchard & Johnson yang menulis perumpamaan itu, keju adalah symbol dari apa saja yang membawa kebahagiaan. Ia bisa berupa kue, pekerjaan, kekasih, kekayaan, perusahaan, atau bahkan keterampilan. Dan semuanya tak abadi, bisa pindah atau dipindahkan “ke tempat” lain.

Dan di dalam cerita itu disebutkan ada dua ekor tikus yang selalu bekerja dan mencari “keju” itu ke tempat lain. Anda yang mempunyai “Shio” tikus barangkali punya perilaku yang sama: Tak bisa diam di tempat. Nah, keduanyalah yang menemukannya. Ternyata di tempat lain itu ada keju-keju lain yang sama nikmatnya dan jauh lebih besar.

Mereka menuding resesi atau daya beli itu ibarat “manusia” tadi. Tidak bisa melihat keju yang telah berpindah ke tempat lain. Ia hanya mengais rejeki di tempat yang sama. Resesi atau lemahnya daya beli, kalau balon, maka itu diibaratkan satu balon yang mengempis atau kalau krisis, balonnya pecah.

Dan harap diketahui kita baru saja berada di depan pintu gerbang Disruptions. Saya harap Anda sudah membaca bukunya. Dalam proses disruption itu, teknologi tengah mematikan jarak dan membuat semua perantara (middlemen) kehilangan peran. Akibatnya margin 20-40% yang selama ini dinikmati para penyalur (grosir – retailer) diserahkan kepada digital marketplace (± 5%), seperti Tokopedia, Bukalapak, OLX, dan konsumen. Konsumen pun menikmati harga-harga yang jauh lebih terjangkau.

Ditambah lagi, kini generasi millennials telah menjadi pemain penting dalam konsumsi. Dan tahukah Anda, setidaknya satu dari beberapa anak Anda telah menjadi wirausaha baru. Mereka beriklan di dunia maya seperti di FB dan IG, dan mendapatkan pelanggan di sana, berjualan di sana, dan perbuatannya tidak terpantau regulator bahkan orang tua mereka sekalipun.

Di era ini, para pengusaha lama perlu mendisrupsi diri, membongkar struktur biaya, bukan bersekutu dengan regulator, mengundang kaum muda untuk membantu meremajakan diri, agar siap bertarung dengan cara-cara baru. Biarkan saja kaum tua meratapi hari ini dengan mengatakan daya beli, krisis, atau resesi.

Dunia ini sedang shifting. Orang tua-orang tua muda sedang memangku cyber babies, kaum remaja terlibat cyber romance. Mereka belajar di dunia cyber, dan menjadi pekerja mandiri. Dan masih banyak hal yang akan berpindah, bukan musnah. Ia menciptakan jutaan kesempatan baru yang begitu sulit ditangkap orang-orang lama, atau orang-orang malas yang sudah tinggal di bawah selimut rasa nyaman masa lalu.

Ayo ikuti shifting ini, terlibat dan ambil bagian di dalamnya

Semoga bermanfaat 🙏🏻

Advertisements

Leave a comment

Filed under Artikel

Kadar Gula Darah Normal

Leave a comment

May 26, 2018 · 7:52 am

Search inside your Self

*Search inside your Self*

Mengapa Google Menjadi Tempat Kerja Paling Membahagiakan di Planet Bumi ini? Ini salah satu rahasianya.

Gajinya besar, makan besar hingga cemilan gratis, disediakan tempat tidur siang, disediakan berbagai sarana olahraga dan games, desain kantornya keren banyak spot selfie, keluar masuk karyawan hampir 0.

Semua Itu memang bikin asyik kerja di google. Tapi ada satu hal yang nggak banyak orang tahu, yang membuat Google menjadi salah satu tempat kerja paling membahagiakan di planet ini.

Bukan Gaji Yang Besar yang Membuat Bahagia Bekerja di Google

Chad Meng, salah seorang insinyur di Google (dia karyawan no 107) adalah otak yang merancang sebuah program utk menciptakan suasana membahagiakan di Google.

Dia menggagas sebuah program untuk karyawan google namanya Search Inside Yourself. Programnya banyak dan unik2. Tapi saya mau share satu aja yang menurut saya simple tapi jleb.

Meng mengajarkan sebuah latihan pikiran selama 10 detik saja. Pikirkan dua orang yang ada di ruangan ini, lalu katakan dalam hati “Saya mendoakan dengan tulus agar si A bahagia, Saya mendoakan dengan tulus agar si B bahagia,”.

Latihan simpel ini ternyata telah mengubah banyak orang. Setiap orang yang sudah mempraktikkan ini akan tersenyum dan merasa lebih bahagia dibanding 10 detik yang lalu.

Meng pernah mengajarkan praktik ini di sebuah seminar pada selasa malam. Dia menyarankan kepada audiens untuk mempraktikkannya besok saat kerja. 10 detik setiap jam. Pilih secara acak dua orang yang melintas di kantornya. Karena ini cuma dalam pikiran, tidak ada hal yang menyulitkan atau memalukan.

Pada hari Rabu Meng mendapat email dari salah seorang yang mempraktikkan latihan ini: “I hate my work, I hate coming to work every single day. But in attended your talk on Monday, did the homework on Tuesday, and tuesday was my happiest day in 7 years.”

Mengapa praktik ini begitu efektif untuk menciptakan suasana bahagia dlm hati?

Ketika mempraktikkan latihan ini saya baru sadar bahwa sumber stress adalah karena kita sibuk memikirkan diri kita. Coba cek doa-doa kita. 99% untuk kebaikan, kebahagiaan, kekayaan diri kita sendiri.

Kayaknya nggak pernah kita menyelipkan doa untuk tetangga yang lagi susah, tukang mie tek tek yang malam2 lewat sementara dagangan belum habis, tukang sampah yang mengais sampah di pagi buta, tukang bakso mi ayam sate ayam atau petugas PLN /PDAM yang ngecek meteran.

Padahal salah satu sumber kebahagiaan itu ternyata adalah melakukan kebaikan untuk orang lain, Altruisme.

Dan sebaliknya, sumber ketidakbahagiaan adalah selfish, egoisMe, selalu Me Me Me (aku aku aku).

Mari kita saling mendoakan tidak hanya untuk kita tapi juga untuk orang orang terdekat kita dan orang orang disekitar kita serta orang orang lain yang banyak membantu kita dalam segala aspek kehidupan dan mari kita praktekkan, semoga kita menjadi orang yg bahagia.. 🙏😇

Selamat Pagi Frens !
Sumber: Be Good

Leave a comment

Filed under Artikel

DOING THE RIGHT THINGS RIGHT

*DOING THE RIGHT THINGS RIGHT*

Di sebuah negara kecil di daerah Afrika yang berbentuk pulau ada sebuah kebiasaan unik. Kebiasaan atau tradisi itu terus dilakukan turun temurun.

Setiap pagi hari banyak anjing-anjing berkeliaran.
Mereka berlari ke sana kemari dengan bebas dan riangnya. Namun menjelang magrib, tentara-tentara di pulau itu akan menangkapi anjing-anjing tersebut dan memasukkannya ke dalam kendang.
Anjing itu harus terus berada di dalam kandang hingga keesokan paginya baru anjing-anjing itu dilepaskannya.

Begitulah dari hari ke hari,
bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun.
Itu adalah tradisi unik yang harus dilakukan,Sang tentara yang menjalankan tugas itu menganggap hal itu lumrah, biasa.

Suatu ketika ada seorang wartawan yang berlibur ke pulau tersebut,Ia bingung dengan ritual tersebut.
Ia pun bertanya pada penduduk setempat, namun tidak ada satu pun yang ditanyainya tahu persis, mengapa ritual itu harus dikerjakan!
Maka wartawan itu pun pergi menjumpai Komandan pasukan yang bertugas di pulau itu untuk menangkap anjing-anjing tersebut setiap sorenya.

Komandan pasukan berkata “Alasan mengapa saya harus melakukan itu? Jujur… saya tidak tahu mengapa. Namun saya harus menjalankan tugas tersebut dengan benar “I have to do that job rightfully!.
semua harus mengikuti proses yang benar. Sebab bila tidak, maka akan ada malapetaka yang terjadi pada kami.”

Ritual perintah yang harus dijalankan dan ini sudah turun temurun adalah: Pertama setelah lonceng tanda pk. 18.00 dibunyikan, kami akan mulai menangkap anjing-anjing yang berkeliaran, lalu mengikatnya serta memasukkannya ke dalam kandang.

Heran dengan hal ini wartawan tersebut mencoba mencari tau melalui sejarah serta bertanya pada Walikota, pemimpin agama dll. Semuanya tetap tidak ada yang tau apa alasannya.
Hingga suatu ketika, saat ia sedang berada di sebuah bar tua yang ada di pulau tersebut dan ia sedang menyatakan kebingungannya pada seorang bar tender yang ada di sana. Disebelahnya ada seorang yang sudah sangat tua berkata demikian: “Kamu mau tau cerita sebenarnya, anakku?”

Spontan wartawan itu pun mengiyakan.

Pak tua itu bercerita, “Waktu itu saya masih berusia 10 tahun, kakek saya adalah Kapten tentara yang bertugas di istana raja. Waktu itu kami masih memiliki seorang raja. Kini zaman berubah dan sudah berubah menjadi negara republik.
Saya tidak lupa waktu itu, Karena kakek saya tiba-tiba dipanggil ke istana dan mendapat masalah serius di istana. Saya ceritakan….

Setiap sore hari, sang raja dan keluarganya biasanya makan di taman terbuka yang indah yang ada disebelah timur istana raja. Hari itu ditengah asyiknya sang raja menyantap makanannya. Tiba-tiba datang segerombolan anjing yang membuat keributan disana dan menyerbu hidangan-hidangan raja.
Raja sangat murka dan memerintahkan kakek saya untuk melakukan sesuatu agar masalah tersebut tdk berulang.

“Hehehe…” tiba-tiba pak tua itu tertawa. “Zaman berubah, Monarki sudah berubah jadi Republik, tapi para tentara bodoh itu masih tetap saja melakukan ritual goblok tersebut tanpa tau alasannya mengapa. Biarkan saja.” Serunya sambil terkekeh-kekeh.

Banyak orang di dunia ini yang terus mempertahankan apa yang disebut sebagai “tradisi, ritual, kebiasaan, prosedur, proses yang harus dilalui, aturan baku yang harus ditaati, dll” Orang yang melakukan hal-hal dengan benar. Atau *Doing the things right*.
Mek lupa kalau sesungguhnya dan seharusnya yang benar adalah Mari mengerjakan atau melakukan tugas atau hal-hal *yang benar* atau *doing the right things.*

Masih ingat ketika Perusahaan Nokia dibeli / diakuisisi oleh Microsoft? Ini lah apa yang dikatakan oleh CEO Nokia saat itu yang bernama Stephen Elop: “We didn’t do anything wrong. But somehow, we lost.”_

Apakah Nokia tidak berinovasi?
Nokia berinovasi.

Apakah Nokia tidak menjalankan proses yang benar?
Nokia punya prosedur yang baik dan ketat.

Artinya apa?
Nokia melakukan segala sesuatunya dengan benar namun ia lupa untuk mengerjakan tugas / hal-hal yang benar dan tepat. They are doing things right but not doing the right things.

Mari coba pikirkan apa yang selama ini kita lakukan?
Is that what you have to do right or it is the right thing to do?

Jika kita berpikir untuk mengubah sudut pandang kita dengan mengutamakan pemikiran “doing the right things” ketimbang “doing the things right”. Itu artinya kita sudah “doing the right thing right” pada hari ini dan selamat … sebab itu adalah sesuatu hal yang penting di dalam hidup ini.

“You have to do the right thing… You may never know what results come from your action. But if you do nothing, there will be no result.” (Mohandas K. Gandhi)

Selamat pagi Frens !

Sumber: Be Good

Leave a comment

Filed under Artikel

3 Rules I Use to Stay Productive and Not Overwhelmed

By : Ted Serbinski
Managing Director, Mobility at Techstars

To say my life is busy is an understatement.

I’m a father of three kids under the age of three. I have a portfolio of 40-plus startups I’ve invested in and actively support. Each week, I receive 1,000 emails and take 15-30 meetings.

But, also each week, I work 35-40 hours, I go to the gym five times, I clear out my inbox and task list and each night I sleep 8-9 hours. I’m home for dinner with the family almost every night.

So how do I manage this all and not feel overwhelmed? I’ve realized the key to managing the overwhelm and finding focus has come down to three essential rules.

Start with the end in mind.

“Begin with the end in mind” is habit two from Stephen Covey’s book The 7 Habits of Highly Effective People. You can’t stay focused if you don’t know what you’re aiming for. Not knowing your priorities is the cause of overwhelm.

How I put this into practice:

1. I reflect on my eulogy.

Last year, I wrote my eulogy. It’s amazing the clarity you get from thinking about your life at the end. Check out Michael Hyatt’s book Living Forward for a step-by-step guide to crafting your own.

The result of doing this has been transformational. I feel an inner sense of purpose and a connection to my life’s calling. I’m continually zooming out, so I don’t get lost along the way and drift to a place I don’t want to be. When I have those bad days, I remind myself of those that matter most to me and what they might say at my funeral. This connection immediately tempers any bad days as merely temporary.

2. I am committed to achieving 10 goals each year.

For the past three years, I’ve set aside time in December to reflect on the past year and decide what I want to accomplish in the next year. This reflection helps me keep focused throughout the year

I started writing 10 goals a year in 2016. For me, I see recurrent themes around family, health, relationships, work and financial freedom. For 2018, I wrote a financial goal: “Reduce our spending by $500 each month by March 31, 2018.” When I wrote it, I had no idea how we’d do that with all of kids activities and our love for dining out. Well, that was December 2017, and by March 2018, that goal has been exceeded, closer to $600 a month now.

3. I write out my day the night before.

This practice has become one of my favorite habits. Each day, at the end of the workday, I review what I got done that day and plan for the next day. I set two to three big things I want to accomplish the next day, clean up my task/project list and re-commit to my calendar appointments. When I walk into the office in the morning, I’m ready to go, and I know exactly where to start.

Find leverage with routines, habits and technology tools

Simple habits and routines free up willpower for where it is needed most. They minimize decision fatigue so you have a more productive day. The Power of Habit by Charles Duhigg explains this concept further.

How I put this into practice:

1. I write down and review my workday startup and shutdown list of activities.

I was hesitant when I first heard about this concept. How is this going to help me get more done? So one day, I made a list of the things I do each morning to start my workday and things at the end to close up shop. Then something magical happened. I found activities I was overlooking or not doing consistently. I found activities I could optimize. But, more importantly, I found a way to delineate the start and end of the workday.

2. I conduct a personal quarterly review.

Every 90 days, I zoom out of my day-to-day and evaluate it. I look at what I can eliminate, what I can improve, and what I want to change. Two questions I like to ask myself I got from Tim Ferriss: What are 20 percent of the activities I’m doing that are creating 80 percent of the results? And what are the 20 percent of the commitments/people/work creating 80 percent of my stress?

During my 2017 Q4 quarterly review, I realized I was overcommitted. I looked at my commitments and realized there were two boards I could step down from. I served on each for more than four years. I learned a ton, but the time had come where it felt like more of an obligation and was no longer synergistic with my life goals and work priorities. Stepping down was hard, but the effect was amazing: I had a lot more free time in my schedule for new opportunities.

2. I use email for communication, not task management.

This practice was a very hard bad habit to break. Email is meant for communication. If you treat it as a task list, then anyone, at anytime, can add anything to your task list. It’s impossible to keep up with. So I started treating email for what it is: communication. And oh, I deleted email from my phone — I don’t always need to be in communicationmode.

The result of doing this was a massive reduction in stress and anxiety. Every time I’d open my inbox to complete a task, I’d see more emails. I’d get lost in responses and at the end of the day feel like I was busy but not productive. Breaking this habit freed me from priorities of others so I could focus on what I needed to do. That little practice has compounded with time to yield tremendous results. How do I get so much done? Avoid email.

Learn to say no.

No.

So simple to write yet so hard to put into practice. Greg McKeown’s book Essentialism: The Disciplined Pursuit of Less is a wonderful deep dive into the art of saying no by pursuing less.

How I put this into practice:

1. I review my life priorities and yearly goals each day.

Once you get clear on what you want, it becomes far easier to say no to everything else. The enemy of great is good.

2. Each time I say yes, I remember I am also saying no to something else.

Consider this: Each time you say yes to something, you are inadvertently saying no to something else. That “yes” takes up time in your life and when that next opportunity comes up, you don’t have the time to say yes.

3. I often respond with “Sorry, I have a prior commitment.”

Who’s that prior commitment? Me. No, I’m not selfish. But if I say yes to everyone else’s requests, how am I going to find time for my work and passion? This goes back to rule No. 1 — be proactive about what you want versus reactive to what people want.

When I first tried this, I was worried. People are going to get mad. They won’t like me. They will stop asking for me to speak, help or work with them. It turns out this was a false truth living in my head. People ended up respecting me for being clear about my priorities and boundaries. And the requests, well, it seems like I’m getting even more than ever being harder to reach.

For many years, I was a productivity nerd. I’d read books and tried every tool that mentioned “GTD” (from David Allen’s Getting Things Done book). But, I continually stumbled, felt overwhelmed and never felt in control.

In the past year, after some self-reflection, connecting of the dots and new resources, I realized I was missing the whole point.

Overwhelm doesn’t need to hinder productivity. The recipe for success is simple: Start with the end, establish habits and routines to get there, and don’t be afraid to say no to every request that doesn’t help you accomplish your goals.

Leave a comment

Filed under Artikel

Kolagen terbaik

Kolagen terbaik dari Plasenta Salmon http://www.jem2u.co.id/hery10

Leave a comment

Filed under Artikel

Jakarta, Siap-siap hadir ya

Leave a comment

October 4, 2017 · 12:53 pm

Promo 29-30 September 2017

Leave a comment

September 29, 2017 · 6:29 pm

LIFE IS NOT A COMPETITION

LIFE IS NOT A COMPETITION
By Harmanto Haroen

Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib; yang sedang melewati sebuah lembah yang diberi nama _Lembah Lolipop_, karena di lembah itu penuh dengan permen lollipop yang beraneka ragam. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama-sama.

Di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak sekali permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa dan rupa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatannya.

Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil.

Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak di depannya.

Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis; maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya.

Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah Lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan ” *Selamat Jalan* “. Itulah _batas akhir lembah Lolipop_.

Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, “Bagaimana perjalanan kamu di lembah Lolipop ?? Apakah permen-permennya lezat ?? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk ??”.
“Itu rasa yang paling disenangi banyak orang. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga ?? Itu juga sangat lezat !!”.

_Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi_.

Ia merasa _sangat lelah_ dan _kehilangan banyak tenaga_.
Ia telah *berjalan* _sangat cepat_ dan *membawa* _begitu banyak_ permen lolipop yang _terasa berat_ di dalam tas karungnya.

Ia terhenyak dengan pertanyaan tsb.
Ia pun menjawab : “Eeemmmm……… permennya _belum dimakan sama sekali_ ; saya *sibuk mengumpulkan permennya* sehingga *lupa untuk mencicipi permen* tsb”.

Tak berapa lama kemudian Bib sampai di ujung jalan lembah Lolipop.

“Hai, Bob! kamu berjalan cepat sekali.. Saya memanggil-manggil kamu, tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya.”

“Kenapa kamu memanggil saya?” tanya Bob.

“Saya ingin mengajak kamu _duduk dan makan permen anggur bersama_. Rasanya enak sekali. Juga saya _menikmati pemandangan lembah_; indah sekali !!”.

Bib bercerita panjang lebar kepada Bob.
“Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. _Kami makan bersama_ dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. _Kami tertawa bersama_. Setelah itu dia menceritakan juga ada _beberapa permen-permen langka_ yang bisa diambil hanya _jika kita tau lokasi permen tersebut_. Permen langkanya luar biasa loh. Nah lihatlah ini”.
Bib memperlihatkan permen langka yang _bentuk serta rasanya luar biasa_; yang jika diberi nilai maka nilainya _100 x dari permen biasa_.

Mendengar cerita Bib; Bob menyadari _betapa banyak hal yang telah ia lewatkan_ dari lembah Lolipop yang sangat indah tersebut. Ia _terlalu sibuk_ mengumpulkan permen-permen itu.

Ia sampai _lupa memakannya_ dan _tidak punya waktu_ untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.

Di akhir perjalanannya di lembah Lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, “Perjalanan ini bukan tentang *berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan*; tapi tentang *bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia*”.

Ia pun berkata dalam hati, ” *Waktu tidak bisa diputar kembali*” Perjalanan di lembah Lolipop *sudah berlalu* dan Bob pun harus *melanjutkan kembali perjalanannya*.

Dalam kehidupan kita; _banyak hal_ yang ternyata kita _lewati begitu saja_. Kita lupa untuk _berhenti sejenak_ dan _menikmati kebahagiaan hidup_. *Kita* menjadi Bob dilembah Lolipop yang *sibuk mengumpulkan permen dan lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia*.

Banyak orang yang ketika melihat peluang; mereka menjadi _serakah_ dan _makin serakah_.
Seluruh hidupnya _terfokuskan_ hanya untuk _mengumpulkan_ hal tsb. sehingga hidupnya menjadi _lelah_, dan tidak sedikit orang menjadi sakit bahkan meninggal.

Ingatlah bahwa *hidup ini bukan sebuah pertandingan* !!!!

Sekalipun pertandingan, _bukan masalah menang atau kalahnya yang terpenting_; melainkan *bagaimana kita menikmati pertandingannya*; itu lah yang terpenting !!!!.

Pernahkan Anda bertanya; _kapan waktunya untuk merasakan bahagia_ ????

Banyak orang yang jika ditanyakan pertanyaan ini akan menjawab demikian; “Saya akan bahagia *nanti*………………….. Nanti pada waktu saya sudah menikah……..
Nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri…….. Nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya…….. Nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya…….. Nanti pada saat penghasilan saya sudah sangat besar……..

Pemikiran *’nanti’* itu membuat kita bekerja *sangat keras* di saat *’sekarang’*; lupa istirahat, lupa waktu !!!!

Semuanya itu supaya kita *bisa mencapai* apa yang kita *konsepkan* tentang masa bahagia (Masa depan / Nanti).
Terkadang jika kita *renungkan* hal tsb., ternyata kita telah *mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini* untuk *masa ‘nanti’*. *Ritme kehidupan* kita menjadi *sangat cepat* tapi rasanya *tidak pernah sampai di masa ‘nanti’* itu.

*Ritme hidup yang sangat cepat*…; *target-target tinggi* yang *harus kita capai*…….., yang anehnya *kita sendirilah yang membuat semua target itu*…..; tetapi semuanya itu *tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan*.

Uniknya, pada saat kita *memperlambat ritme kehidupan kita*; _pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan rumah_, _pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak cucu kita_,
_pada saat makan malam bersama keluarga_,
_pada saat kita duduk bermeditasi_ atau _pada saat membagikan beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir_; *terasa hidup ini menjadi lebih indah*.

Jika saja kita mau memperlambat ritme _hidup kita_ dengan penuh kesadaran; memperlambat ritme _makan kita_, memperlambat ritme _jalan kita_ dan _menyadari setiap gerak tubuh kita_ .
Kita _berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah anak-anak_ bahkan _menyadari setiap hembusan nafas_; maka kita akan menyadari *begitu banyak detail kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri*.

Kita akan merasakan *ritme yang berbeda* dan *kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang*.

Dan _pada akhirnya_ akan membawa kita menjadi *lebih bahagia dan bersyukur* seperti Bib yang melewati perjalanannya di lembah Lolipop.

_”Happiness is a journey, not a destination.”_
*Ben Sweetla*

Selamat Pagi Frens!

Leave a comment

Filed under Artikel

Bergaul Dengan Orang yang Berprestasi

Pelikan : burung penangkap ikan yang ulung, tp di Montereya – California hal spt ini tidak terjadi.

Di kota ini burung pelikan tdk perlu bersusah payah untuk mendapatkan ikan karena banyak sekali pabrik pengalengan ikan, ber-tahun2 mereka berpesta dengan ikan yg berserakan.

Hal yg menakutkan terjadi ketika ikan di sepanjang pesisir mulai habis dan pabrik pengalengan mulai tutup, burung tsb mengalami kesulitan.

Karena ber-tahun2 tidak menangkap ikan, mereka menjadi gemuk dan malas. Ikan yang dulu mereka dapatkan dengan mudah sudah tidak ada, sehingga satu persatu dari mereka mulai sekarat dan mati.

Para pecinta lingkungan hidup berusaha keras menyelamatkan mereka, berbagai cara dicoba untuk mencegah populasi burung ini agar tidak punah.

Sampai suatu saat terpikirkan oleh mereka untuk mengimport burung pelikan dari daerah lain, yaitu :

“pelikan yg berburu ikan setiap hari”.

Pelikan tersebut lalu bergabung bersama pelikan setempat, hasilnya luar biasa pelikan baru tersebut segera berburu ikan dengan giatnya.

Perlahan pelikan yang kelaparan tersebut tergerak untuk berburu ikan juga, akhirnya pelikan di daerah tersebut hidup dengan memburu ikan lagi.

Les Giblin, seorang pakar hubungan manusia menjelaskan bhw :

manusia belajar dr panca inderanya:
– 1% dari rasa,
– 1½ % dari sentuhan,
– 3½ % dari penciuman,
– 11% dari pendengaran,
– 83% dari penglihatan.

John C. Maxwel, pakar kepemimpinan
surveinya membuktikan:

“Bagaimana seorang menjadi pemimpin?”

– 5% akibat dari sebuah krisis,
– 10% adalah karunia alami,
– 85% adalah dikarenakan pengaruh dari pemimpin mereka.

Demikian halnya jika kita ingin semakin maju, maka salah satu cara terbaik adalah:

A. Bergaul dg orang yang berprestasi.
B. Perhatikan :
– cara mereka bekerja,
– teladani hidup mereka,
– pelajari cara berpikir mereka,
– dan lihat bagaimana mereka mengambil keputusan penting.

Have a nice day
Tetap Semangat…
Terus Bertumbuh…
Dan Terus Belajar…

Semangat Pagi Frens!

Sumber: dari sebuah group WA

Leave a comment

Filed under Artikel